DMI.OR.ID, BOGOR – Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Cendekiawan Muslim Dunia (CMD) Tentang Islam Wasathiyah (TIW) atau High Level Consultation (HLC) of World Muslim Scholars (WMS) on Wasathiyyat Islam (WI) yang digelar di Hotel Novotel, Bogor, pada Selasa (1/5) hingga Kamis (3/5), telah menghasilkan Bogor Message, Pesan Bogor, atau Risalah Bogor.

Berdasarkan dokumen Bogor Message yang diterima DMI.OR.ID pada Kamis (3/5) pagi, terdapat beberapa poin utama yang telah disepakati dan dideklarasikan oleh 100 peserta KTT CMD TIW. Pertama, ialah mengakui reaitas dari peradaban modern yang menunjukkan ketidakteraturan (gangguan) global, serta ketidakpastian dan kerusakan global.

Hal ini semakin diperparah dengan kemiskinan, buta huruf, ketidakadilan, diskriminasi, dan berbagai bentuk kekersan, baik di tingkat nasional maupun global. Kedua, ialah percaya (yakin) bahwa Islam sebagai suatu agama yang damai dan penuh rahmat (din al-salam wa al-rahmah).

Agama Islam juga menjadi agama peradaban (din al-hadarah) yang memiliki ajaran-ajaran dasar dan prinsip-prinsip untuk mengajarkan cinta, rahmat, harmoni, kesetaraan, perdamaian, dan kesantunaan.

Ketiga, ialah mengakui bahwa paradigma Wasathiyyah Islam, sebagai ajaran utama Islam, yang telah dipraktekkan dalam perjalanan sejarah sejak era Nabi Muhammad ShalAllahu Alaihi Wasaallam (SAW), Kekhalifahan yang dipandu dengan benar (al-Khilafa al-Rashida), sampai ke periode modern dan kontemporer, di berbagai negara di seluruh dunia.

Paradigma wasathiyyah Islam juga menegaskan kembali peran dan tanggung jawab moral dari para cendekiawan Muslim untuk memastikan dan memelihara generasi masa depan guna membangun peradaban Ummatan Wasathan.

Para Cendekiawan Muslim Dunia yang bersidang dalam KTT  CMD TIW ini juga berkomitmen untuk menghidupkan kembali paradigma Wasathiyyah Islam sebagai inti ajaran Islam yang meliputi 7 (tujuh) nilai-nilai utama, yakni: Pertama, Tawassut, posisi di tengah dan lurus; Kedua, I’tidal, berperilaku proporsional dan adil dengan bertanggungjawab.

Ketiga, Tasamuh, mengakui dan menghormati berbagai perbedaan dalam seluruh aspek kehidupan. Keempat, Shura, cenderung untuk berkonsultasi dan menyelesaikan masalah-masalah melalui pertimbangan untuk mencapai konsensus. Kelima, Islah, terlibat dalam tindakan reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama.

Keenam, Qudwah, mempelopori inisiatif-inisiatif mulia dan memimpin untuk kesejahteraan manusia. Ketujuh, Muwatonah, mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan.

Selain itu, para cendekiawan Muslim Dunia juga berkomitmen untuk menanamkan nilai-nilai paradigma Wasathiyah Islam sebagai budaya yang hidup secara individual dan kolektif, dengan melambangkan semangat dan contoh-contoh dari sejarah peradaban Islam.

Komitmen lainnya ialah untuk memperkuat tekad untuk membuktikan kepada dunia, bahwa Muslim sedang mengamati (mengobservasi) paradigma Wasathiyyah Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Lalu, mereka juga berkomitmen untuk memberikan semangat kepada komunitas dan negara-negara Muslim untuk mengambil inisiatif guna mempromosikan paradigma Wasathiyyah Islam, melalui suatu Tumpuan Dunia dari Wasathiyyah Islam, untuk membangun Tumpuan Dunia, suatu masyarakat yang adil, sejahtera, tenang, inklusif, harmonis, berdasarkan ajaran-ajaran Islami dan moralitas.

Dokumen Bogor Message, Pesan Bogor, atau Risalah Bogor ini disepakati dan disahkan pada Kamis (3/5), bertepatan dengan 17 Sya’ban 1439 Hijriah, di Hotel Novotel, Bogor.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani