DMINEWS, JAKARTA – Terorisme dan ekstrimisme seperti gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dapat ditanggulangi dengan pemberian edukasi (pendidikan) Islam yang baik dan benar, sesuai dengan prinsip Islam ‘Rahmatan lil A’lamin’.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Libya, Mohammed al-Dairi, menyatakan akan lebih mengutamakan isu kerja sama pendidikan Islam murni untuk menangkal ancaman kelompok ekstrimis seperti ISIS.

“Kami harus membangun program edukasi di antara negara-negara Muslim agar dapat melawan terorisme di satu sisi. Sementara di sisi lain, kami juga dapat membawa nilai-nilai Islam yang sesungguhnya, yang sangat jauh dari aksi barbar yang telah dilakukan ISIS,” tutur al-Dairi pada Senin (20/4).

Seperti dilansir laman http://m.cnnindonesia.com, Al-Dairi menyatakan hal itu di sela-sela Asian African Ministerial Meeting (AAMM) atau Pertemuan Tingkat Menteri dalam Peringatan ke 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada Senin (20/4).

“Saya menanti pertemuan bilateral dengan pemerintah Indonesia besok, Selasa (21/4), dengan Wakil Presiden (Wapres),” papar Dairi.

Dairi pun akan mendengarkan pandangan Wapres RI, Muhammad Jusuf Kalla, dengan antusias dan melihat bagaimana proses mediasinya. “Kami berharap Libya akan mendapatkan manfaat maksimum dari inisiasi KAA ini,” papar al-Dairi.

Menlu al-Dairi pun mengaku semangat untuk mendengarkan pemaparan lebih lanjut terkait upaya mediasi dari Wapres Kalla yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu.

Mudah-mudahan, lanjutnya, ada wujud nyata dukungan dari negara-negara Asia dan Afrika untuk memberantas terorisme di Libya dan sekitarnya.

“Saya ingin melihat hasil konkrit dari konferensi ini untuk mencari jalan keluar guna melawan terorisme. Kita, Asia dan Afrika, harus berdiri bersama di hadapan ancaman yang kini berkembang dari ISIS di Libya,” tegasnya.

Menurutnya, dukungan komunitas internasional sangat penting, tidak hanya dari negara-negara Asia dan Afrika, tetapi juga dukungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Kami mendorong PBB untuk memberikan otoritas kepada tentara Libya dalam hal persenjataan dan peralatan militer yang kami butuhkan untuk melawan terorisme di Libya,” jelasnya.

Di tengah-tengah kecamuk perang saudara, tuturnya, Libya saat ini menjadi lahan baru bagi ISIS yang berencana meluaskan wilayah mereka dari Irak dan Suriah. Apalagi, dua pemerintahan saat ini mengklaim Libya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Keterangan Foto: Menlu Libya, Mohammed al-Dairi, memberikan keterangan pada wartawan disela-sela KAA, di JCC, Senin, (20/4).