Salah satu masjid paling bersejarah di Kota Yogyakarta ialah Masjid Besar Pakualaman yang berlokasi di Jalan Masjid Nomor 46, Gunung Ketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Masjid ini menjadi bagian terintegrasi dari kompleks Pura Pakualaman, tepatnya di sebelah barat daya keraton itu.

Proses pendirian Masjid Besar Pakualaman tidak dapat dilepaskan dari jejak sejarah Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Natadiningrat. Ia menjadi penerus tahta kedua di Puro Pakualaman dengan gelar lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Sri Paku Alam II. Sebelumnya, ia juga diangkat menjadi Pangeran Suryaningrat oleh ayahnya, GPA Paku Alam I. Masjid ini didirikan pada Tahun Jawa 1767, bertepatan dengan Tahun 1839 Masehi, atas perintah Sri Paku Alam II. Alhamdulillahi rabbil a’lamin, penulis berkesempatan untuk berkunjung ke Masjid Besar Pakualaman pada Jumat (4/8) sore untuk menunaikan ibadah sholat Ashar berjama’ah dengan salah seorang jama’ah masjid.

Seperti dikutip dari laman http://www.kaumanpakualaman.com, tertulis bahwa Masjid Besar Pakualaman memiliki empat buah prasasti, yakni dua prasasti beraksara Jawa dan dua prasasti lainnya beraksara Arab. Dalam prasasti beraksara Jawa yang terletak di dinding utara masjid, tertulis bahwa proses pembangunan Masjid Besar Pakualaman ini juga dibantu oleh Patih Raden Riya Natareja dan Mas Penghulu Mustahal Hasranhin.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, masjid ini memang berukuran lebih kecil dan lebih muda daripada Masjid Gedhe Kauman, namun tidak kalah eksotis dengan masjid di kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu. Saat pertama kali melangkah menuju area Masjid Besar Pakualaman, penulis merasa seperti kembali ke masa silam, ketika Pura Pakualaman sedang mengalami masa-masa kejayaannya di masa Sri Paduka Paku Alam II.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Setiap jama’ah atau warga yang memasuki area masjid ini pun akan disambut dengan gapura bertuliskan aksara berbahasa Arab, lengkap dengan terjemahan aksara latin berbahasa Jawa sebagai berikut “Terus Luhur Terusto Raharjo“. Kata-kata ini menjadi motto dan spirit utama dari Masjid Besar Pakualaman yang berarti jalan lurus menuju kesejahteraan.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Secara umum, masjid ini memiliki dua bagian utama, yakni ruang serambi dan ruang utama. Di ruang utama, terdapat mimbar masjid yang terbuat dari kayu jati dengan kualitas terbaik, dan berwarna kuning muda, serta memiliki ornamen khas Yogyakarta di bagian atapnya. Mimbar masjid ini juga memiliki tiga buah anak tangga dengan lapisan permadani berwarna hijau. Secara spontan, ketiga anak tangga ini mengingatkan penulis terhadap tiga tahapan perjalanan rohani ummat Islam, yakni Iman, Islam dan Ihsan.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Jika Iman merupakan tahap awal (start) bagi seseorang untuk masuk secara menyeluruh dalam agama Islam dengan prinsip-prinsip dalam kalimat syahadat, maka Ihsan merupakan tahapan puncak bagi seorang Muslim untuk beribadah karena kecintaan yang luar biasa kepada Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW, bukan karena pahala dan dosa. Orang yang ihsan akan sepenuh hati tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Selain itu, di sisi kiri bagian depan masjid, terdapat bangunan tiga dimensi berbentuk empat persegi panjang yang terbuat dari kayu jati dengan ukir-ukiran khas Yogyakarta berwarna kuning muda. Bangunan ini dikenal dengan sebutan Maksura, yakni tempat khusus yang digunakan oleh KGPAA Sri Paku Alam ketika beribadah di Masjid Besar Pakualaman. Para penjaga keamanan Sri Paku Alam pun beribadah dengan posisi di samping dan di belakang Maksura untuk menjaga keamanan Sultan selama berada di masjid. Adapun lantai di ruang utama terbuat dari tegel dan tertutup seluruhnya oleh permadani berwarna hijau dengan warna kuning di bagian bawahnya sebagai pembatas atau tempat pijakan kaki. Permadani itu didesain untuk tempat sholat sehingga membuat para jama’ah nyaman saat beribadah.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Kemudian di bagian serambi masjid, terdapat ruangan berukuran besar yang digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar tentang agama Islam, termasuk mengaji kitab suci al-Qur’an, kajian fiqh, tauhid, akhlaq, dan kitab-kitab kuning lainnya. Saat berkunjung ke Masjid ini, di bagian serambi masjid sedang berlangsung pengajian yang dipimpin oleh seorang kyai dengan ibu-ibu sebagai pesertanya. Serambi masjid ini juga terasa istimewa karena terdapat sebuah bedug tua berukuran cukup besar di sisi sebelah kirinya. Bedug itu berada di dalam kayu jati berwara kuning muda yang membentuk ruangan empat persegi dengan tiga dimensi (kubus). Kondisi ini istimewa karena bedug tidak penulis jumpai di Masjid Gedhe Kauman. Adapun lantainya juga terbuat dari tegel berwarna hitam, namun hanya sebagian saja yang tertutup dengan tikar berwarna kuning muda di bagian barat (kiri) masjid sebagai alas untuk belajar al-Qur’an bagi para santri.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Ketika penulis berkunjung, masjid ini juga sedang mengalami renovasi besar-besaran di bagian serambi dan halaman masjid sehingga empat prasasti dengan aksara dan bahasa Jawa dan Arab tidak dapat dilihat oleh penulis. Hal unik lainnya yang membedakan Masjid Besar Pakualaman dengan Masjid Gedhe Kauman ialah konstruksi atap masjid yang berbentuk limas segi empat tunggal berukuran besar berwarna merah di bagian atasnya dan berwarna putih polos di bagian dalamnya. Di ruang utama masjid, terdapat satu gantungan lampu-lampu berukuran besar dengan ornamen dan ukiran khas Puro Pakualaman yang ada tepat di tengah-tengah ruang utama, serta satu gantungan lampu-lampu besar lagi yang ada di bagian depan sebelah barat (kiri) masjid dekat maksura.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Kemudian di poros utama ruangan dalam masjid, terdapat enam buah tiang (cagak) yang menopang konstruksi bangunan masjid, di sisi luar bangunan dalam masjid pun terdapat enam buah tiang lagi dengan fungsi yang sama sehingga jumlahnya ada 12 tiang di ruang utama masjid. Angka enam yang disimbolkan oleh jumah tiang di poros utama dan di sisi luar ruangan dalam masjid seketika mengingatkan penulis terhadap enam rukun iman di dalam syariat Islam.

Sedangkan di serambi masjid terdapat lima buah jam dinding berukuran kecil yang menunjukkan waktu untuk sholat shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan i’sya. Ada juga dua jam dinding kuno berukuran sedang di bagian atasnya, serta satu jam dinding kuno lainnya dengan ukuran besar. Semua jam dinding ini terletak di dinding sebelah barat (kiri) serambi masjid sehingga jumlah seluruhnya ada delapan buah jam dinding.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani