Salah satu masjid paling fenomenal dan kini menjadi pembicaraan masyarakat umum secara nasional, bahkan internasional, ialah Masjid Jogokariyan yang terletak di Jalan Jogokaryan No. 36, Mantrirejon, Kampung Jogokariyan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Masjid ini dikenal luas oleh publik sebagai masjid yang pengelola manajemen masjidnya menerapkan sistem saldo Rp 0 untuk berbagai macam bentuk infaq dan shadaqah, yang diumumkan sepekan sekali setiap sholat Jum’at Berjama’ah.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Alhamdulillahi Rabbil A’lamiin, penulis berkesempatan untuk hadir dan menunaikan sholat Maghrib dan I’sya berjama’ah pada Jumat (4/8) petang hingga malam hari. Saat itu, terlihat ratusan jama’ah sholat Magrib dan I’sya beribadah bersama-sama dan memenuhi seluruh ruangan masjid, dari ruang utama hingga serambi masjid, dari depan hingga belakang. Seperti yang terdengar secara umum di publik, Masjid Jogokariyan benar-benar dimakmurkan oleh jama’ah dan pengurus masjidnya serta mampu memakmurkan masyarakat di sekitarnya.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga lantai dimana lantai kedua merupakan ruangan serbaguna untuk berbagai macam kegiatan dan aktifitas sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan oleh Dewan Kemakmuran (lembaga takmir) Masjid Jogokariyan. Sedangkan lantai tiga diperuntukkan untuk penginapan (home stay) bagi tamu-tamu DKM Jogokariyan maupun masyarakat umum atas izin pengurus DKM.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Sementara di halaman masjid, terlihat panggung dengan karpet berwarna hitam dan berukuran cukup besar untuk beragam aktifitas DKM Jogokariyan, lengkap dengan satu set sound system (akustik) untuk acara-acara itu. Ada pula poliklinik milik DKM untuk membantu pengobatan dan konsultasi kesehatan bagi jama’ah dan pengurus DKM serta masyarakat di sekitar Masjid Jogokariyan. Poliklinik ini terletak di halaman masjid, bersebelahan dengan ruangan untuk sekretariat DKM. Bahkan ada warung angkringan di halaman masjid untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman bagi para jama’ah, pengurus, masyarakat, dan tamu-tamu yang datang ke Masjid Jogokariyan.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Seperti dikutip dari laman http://masjidjogokariyan.com, Masjid Jogokariyan mulai dibangun sejak 20 September 1965 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh panitia pembangunan Masjid Jogokariyan. Akhirnya masjid ini selesai dibangun dan diresmikan pada 20 Agustus 1967 oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta saat itu, Ustaz H. Isman. Adapun sejumlah tokoh yang menjadi pemrakarsa berdirinya masjid di Kamung Jogokariyan itu ialah H. Jazuri, Zarkoni, H. Amin Said, Abdul Manan, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Widyodiningrat, dan Hadits Hadi Sutarno, serta Ibu Margono.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Saat ini, konstruksi bangunan Masjid Jogokariyan didominasi oleh warna biru muda dengan bangunan dinding bagian depan berwarna cokelat muda dan mihrab masjid berwarna cokelat tua serta sebuah jam lonceng di bagian depan sebelah timur masjid. Shaf untuk jama’ah laki-laki dan perempuan pun dipisah dengan bagian ruang utama untuk jama’ah laki-laki dan bagian serambi serta lantai dua untuk jama’ah perempuan. Terdapat pula satu buah gantungan lampu-lampu berukuran besar tepat di tengah-tengah ruang utama masjid.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Keunikan lainnya, Masjid Jogokariyan tidak memiliki tiang-tiang penyangga di ruang utama masjid sebagaiana penulis temui di Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Besar Pakualaman. Tiang-tiang penyangga masjid hanya ditemui di bagian belakang serambi masjid sehingga tidak menyebabkan terputusnya shaf jama’ah masjid saat melaksanakan ibadah sholat berjama’ah. Masjid ini juga tidak memiliki kubah di atasnya dan atapnya datar saja karena terdiri dari tiga lantai.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Masjid Jogokariyan juga memiliki sejumlah kamera pengawas sebagai bagian dari Closed Circuit Television (CCTV) yang pengawasannya terpusat di ruang sekretariat DKM Jogokariyan. Sekretariat ini juga menyimpan beragam penghargaan dan kenang-kenangan dari tamu-tau yang datang ke Masjid Jogokariyan. Saat itu penulis juga, bersilaturrahim dengan salah seorang pengurus Remaja Masjid Jogokariyan, Yushna Septian A. Kami berbincang-bincang sejenak mengenai beragam kegiatan dan program yang diselenggarakan oleh DKM Jogokariyan.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Hal unik lainnya dari Masjid Jogokariyan ialah lambang masjid yang terdiri dari tiga tulisan beraksara Jawa, Arab, dan Indonesia dengan sketsa masjid yang menyerupai bentuk aslinya. Lambang “Masjid Jogokariyan” itu terdapat di atas panggung utama dan beberapa bagian masjid lainnya, lengkap dengan angka tahun 1966. Adapun proporsi angka 19 terletak di sebelah kiri (barat) gambar dan angka 66 terletak disebelah kanan (timur) gambar sketsa Masjid Jogokariyan.

Foto Muhammad Ibrahim Hamdani.

Saat itu, terlihat pula beberapa buah motor parkir di dalam halaman masjid. Fasilitas berupa sejumlah bangku juga terlihat di sepanjang koridor poliklinik dan sekretariat DKM Jogokariyan. Tampak pula sejumlah jama’ah duduk-duduk di bangku itu sembari menunggu azan Isya berkumandang atau pun menunggu giliran untuk berobat di poliklinik. Kondisi ini benar-benar menunjukkan Masjid Jogokariyan sebagai masjid berbasis komunitas yang memakmurkan dan dimakmurkan jama’ahnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani