DMI.OR.ID, YOGYAKARTA – Masjid Jogokariyan yang berlokasi di Jalan Jogokariyan No.36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merupakan salah satu masjid yang memiliki pengelolaan manajemen dan kemakmuran masjid yang sangat baik di Indonesia.

Hal ini terlihat dari Gerakan Jama’ah Mandiri yang diinisiasi oleh Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jogokariyan sejak 2005 silam. Dalam gerakan ini, pengurus DKM Jogokariyan mulai menghitung kebutuhan biaya operasional masjid untuk satu tahun, lalu dibagi 52 pekan. Hasil angka ini dibagi lagi dengan kapasitas masjid, sehingga didapatlah biaya per tempat sholat.

Seperti dilansir dari laman http://bimasislam.kemenag.go.id/, angka terakhir inilah yang diumumkan oleh pengurus DKM Masjid Jogokariyan kepada para jama’ah. Ternyata, kebutuhan operasional masjid dapat terpenuhi jika setiap jam’ah mengeluarkan infaq senilai Rp 1.500,- setiap Jum’at. DKM pun mengumumkan jika jamaah bersedekah Rp 1.500,- artinya ibadah mereka tidak disubsidi oleh DKM.

Namun jika kurang dari Rp 1.500,- itu artinya ibadah jamaah disubsidi oleh Masjid. Akhirnya, Gerakan Jama’ah Mandiri ini berhasil menaikkan penerimaan infak Masjid hingga 400 persen. Pelaporan akuntabilitas keuangan Masjid yang transparan menjadikan jamaah tak sungkan berinfak lebih dari Rp 1500,-.

Penerimaan dana itu tidak langsung digunakan untuk pembangunan Masjid, tetapi juga disalurkan melalui pengelolaan bisnis. Keuntungan bisnis itulah yang akhirnya memberikan penghasilan bagi kemakmuran Masjid dan masyarakat sekitar. Dari bisnis itu, DKM Masjid Jogokariyan membuat berbagai program kemasyarakatan untuk masyarakat di sekitar Masjid Jogokariyan.

Misalnya, program umroh untuk empat jama’ah yang paling rajin Shalat berjama’ah di Masjid tersebut. Hal lain yang cukup menarik, Pengurus DKM Masjid Jogokariyan juga membagikan surat undangan kepada jama’ah dengan bentuk yang benar-benar persis seperti surat undangan pernikahan. Surat itu berisi ajakan untuk mendirikan shalat Shubuh di Masjid dan ditujukan kepada masyarakat Jogokariyan.

Undangan Shubuh ini juga dilanjutkan dengan program-program lain seperti Kuliah Shubuh hingga program Sarapan Gratis bagi jamaah yang Shalat Subuh dan langsung melanjutkan aktivitas di Masjid hingga tiba jam berangkat ke kantor.

Bagi anak-anak, DKM Masjid Jogokariyan juga menyediakan Uang Jajan bagi anak-anak yang Shalat Subuh berjamaah dan melanjutkan aktivitas di masjid sampai jam berangkat sekolah tiba. Program ini disambut antusias oleh masyarakat Jogokariyan, sehingga jumlah jama’ah Shubuh di Masjid ini sangat ramai, mencapai setengah dari Jamaah Shalat Jumat.

Saat melakukan pelayanan dakwah kepada masyarakat, DKM Masjid Jogokariyan pun melakukan Pemetaan Jama’ah secara detail hingga mengetahui potensi dan kebutuhan, peluang dan tantangan, serta kekuatan dan kelemahan masjid sebagai acuan dalam melakukan pembinaan keagamaan kepada masyarakat.

DKM Jogokariyan pun melakukan Sensus Masjid sebagai data tahunan yang dikemas dalam bentuk data base bagi dakwah berbasis Masjid. Data base ini tidak hanya mencakup nama kepala keluarga, warga, pendidikan, dan pendapatan, tetapi juga siapa saja warga yang telah menunaikan shalat dan yang belum, serta siapa yang terbiasa berjama’ah di Masjid dan yang tidak.

Data base ini juga meliputi siapa saja warga yang belum dan sudah berkurban, yang belum dan sudah membayar zakat di Baitul Maal Masjid Jogokariyan, serta yang belum dan sudah aktif mengikuti kegiatan di Masjid, termasuk nama instansi tempat warga bekerja, dan lain-lain.

Dari Data base yang sangat detail itu, DKM Masjid Jogokariyan mampu mengetahui berapa jumlah warga yang belum sholat dari total 1030 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 4000-an penduduk di sekitar masjid. Bahkan Data ini terus-menerus diperbarui setiap tahun. Jadi, DKM Masjid Jogoariyan bisa melihat tren perkembangan dakwah per tahun.

Misalnya, jumlah warga yang tidak shalat pada 2010 sebanyak 17 orang, padahal pada tahun 2000, warga Jogokariyan yang belum shalat ada 127 orang. Dari data ini, perkembangan dakwah berbasis masjid selama 10 tahun dapat dilihat. Data base itu juga diformulasikan dalam bentuk Peta Dakwah Masjid Jogokariyan. Peta ini dibuat dengan menggunakan simbol-simbol.

Misalnya, gambar sejumlah blok di perkampungan yang rumah-rumahnya disimbolkan dalam beragam warna yang menunjukan tingkat keakraban kampung itu dengan indikator-indikator Islam seperti: hijau, hijau muda, kuning, dan seterusnya hingga merah. Simbol-simbol lain juga menggambarkan detail indikator syariah di setiap rumah dalam sebuah Peta Dakwah.

Dari hasil sensus itu, berbagai macam kebutuhan kegiatan di Masjid Jogokariyan dapat dipesan dari jamaah. DKM Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak akan membuat Unit Usaha agar tidak bersinggungan dengan jama’ah yang memiliki bisnis serupa.

Dalam hal pembinaan terhadap generasi muda, DKM Masjid Jogokariyan memiliki program untuk membangun karakter pemuda-pemudi yang tumbuh besar dan mencintai Masjid dalam wadah Remaja Masjid Jogokariyan (RMJ). RMJ merupakan salah satu organisasi remaja Muslim yang bernaung di bawah DKM Jogokariyan.

RMJ memiliki banyak alumni dengan data yang tersusun rapi. Mereka tergabung dalam Ikatan Alumni (IA) RMJ. RMJ telah melakukan berbagai kegiatan dengan cukup intensif dan terorganisasi dengan baik, termasuk keberhasilan merekka dalam mendatangkan pembicara-pembicara mulai dari tingkat lokal hingga internasional.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani