DMI.OR.ID, JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Tajikistan sepakat untuk bekerjasama dalam mengatasi kejahatan transnasional seperti terorisme serta narkotika dan obat-obatan terlarangf (narkoba). Narkoba dan terorisme diakui kedua Menlu sebagai tantangan bersama kedua negara.

Hal ini terungkap dalam pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, H.E. Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, S.I.P., L.L.M., dengan Menlu Tajikistan, H.E. Aslov Sirodjidin Muhridinovich, pada Ahad (6/3).

Tepatnya, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa (LB) V Organisasi Konferensi Islam (OKI) Tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif (Yerusalem) di Jakarta, pada Ahad (6/3) hingga Senin (7/3).

“Kami menekankan pentingnya penguatan kerja sama dalam bidang drug trafficking (perdagangan narkoba), terorisme, dan manajemen penanggulangan bencana,” tutur Menlu Retno pada Ahad (6/3), seperti dikutip dari laman www.antaranews.com.

Kedua negara, lanjutnya, juga akan meningkatkan beberapa kerja sama ekonomi, salah-satunya di bidang investasi.

“Tajikistan telah mengundang Indonesia untuk berinvestasi dalam bidang cotton processing (pengolahan kapas) dan aluminium, Pemerintah juga mencari peluang pasar di tajikaistan untuk produk-produk seperti tekstil, furnitur, elektronik, teh, dan kulit,” jelasnya.

Kedua menlu juga berupaya mendorong kerja sama yang lebih erat antar sektor swasta di kedua negara, termasuk kerja sama untuk saling mendukung pada fora internasional.

Terkait isu Palestina, kedua negara sepakat mendorong negara-negara anggota OKI untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Keduanya juga menekankan perlunya peran lebih besar dari negara-negara OKI dalam proses perdamaian antara Palestina dan Israel.

Penulis: Muhammad IBrahim Hamdani