Kebijakan untuk melindungi dan mengembangkan berbagai tradisi multikultural bangsa Azerbaijan, yang dilakukan oleh negara kami di masa kepemimpinan Pemimpin Nasional Heydar Aliyev, dan berhasil dilanjutkan menuju babak baru oleh penggantinya yang tepat, Presiden Ilham Aliyev. 

Menilai multikulturalisme sebagai kebijakan negara Republik Azerbaijan dan pandangan hidup rakyat kami, Presiden Ilham Aliyev memiliki kepentingan khusus untuk bekerjasma dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OKKE), Dewan Eropa, Uni Eropa, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan berbagai organisasi internasional lainnya untuk mengimplementasikan kebijakan ini.

Ia selalu menggarisbawahi pentingnya bagi negara kami untuk mengikuti konvensi-konvensi yang terkait dengan perlindungan hak asasi dan kebebasan etnik minoritas yang telah diadopsi oleh berbagai organisasi ini.

Misalnya, sebagai akibat dari kebijakan ini negara kami mengikuti Konvensi UNESCO tentang “perlindungan dan promosi keanekaragaman ekspresi budaya” di bawah Hukum tertanggal 26 November 2009 seperti instruksi Presiden Azerbaijan.

Forum Kemanusiaan Internasional, yang dibentuk di Baku secara teratur sejak 2011 berdasarkan inisiatif dan dengan partisipasi Presiden Ilham Aliyev, adalah suatu aspek yang sangat penting bagi moral dan kemajuan politik negara.

Dalam pidatonya di upacara pembukaan terakhir untuk forum tradisional ini, Presiden Ilham Aliyev menggambarkan multikulturalisme “sebagai tidak ada alternatif, pilihan yang paling dapat diterima untuk pembangunan di masa depan” dan terutama menekankan pentingnya penguatan multikulturalisme tidak hanya di Azerbaijan, tetapi di seluruh dunia.

Dalam konteks politik ini, Presiden Ilham Aliyev mengesahkan sebuah peraturan pada 28 Februari 2014 untuk membuat Dinas Penasihat Negara tentang Multikulturalisme, Antar-Etnik, dan Urusan Agama. Sekarang, dinas ini telah menetapkan diri sebagai sebuah badan yang melaksanakan penelitian menyeluruh untuk aspek-aspek penting kehidupan ideologi negara, mengisi kesenjangan yang muncul akibat alasan-alasan obyektif.

Langkah penting selanjutnya dari kebijakan multikulturalisme Presiden Ilham Aliyev ialah keputusannya untuk mendirikan Pusat Multikulturalisme Internasional Baku pada 15 May 2014. Lembaga ini berusaha utuk memastikan bahwa toleransi, etnik, budaya, dan perbedaan agama yang telah terbentuk berabad-abad lalu di negara kami dilindungi dan berkembang, guna mewujudkan Azerbaijan sebagai pusat multikulturalisme dunia serta untuk meneliti dan mempromosikan model-mode multikultural.

Bahwa pembukaan lembaga ini di Baku telah diterima dengan sangat alami dan dilakukan oleh para pakar internasional terkemuka di dunia, serta tokoh-tokoh politik dan publik terkemuka di bidang multikulturalisme, menunjukkan secara jelas bahwa Azerbaijan benar-benar suatu pusat multikulturalisme saat ini.

Kehendak politik sistematis di bidang multikulturalisme dan implementasi program yang saling melengkapi satu sama lain telah berhasil dilaksanakan di Azerbaizan pada saat ini.

Yayasan Heydar Aliyev telah menampilkan jasa yang tidak terbantahkan dalam mengubah nilai politik yang diberikan Presiden Ilham Aliyev dari multikulturalisme dan tolerasi menjadi keilmuan yang nyata, wilayah sosial dan budaya.

Hari ini, Yayasan Heydar Aliyev telah mengiplementasikan proyek-proyek penting dan luar biasa untuk memelihara dan mempromosikan tradisi-tradisi multikultural Azerbaijan. Proyek-proyek ini tidak membangun multikulturalisme di dalam model Azerbaijan sendiri, namun secara aktif bekerja dengan agama dan budaya yang beranekaragam di seluruh dunia.

Penguatan hubungan antar budaya, yang salah satu dari aspek pentingnya adalah multikulturalisme, dianggap memiliki tempat khusus dalam upaya sistematis Yayasan itu. Proyek-proyek “Perluasan peran perempuan dalam dialog antar budaya”, “Peran budaya dalam globalisasi”, “Koeksistensi damai dalam suatu dunia yang multikultural” dan “Azerbaijan – Tanah Toleransi” merupakan inisiatif dari Mehriban Aliyeva.

Mehriba Aloyeva ialah Presiden Yayasan, Duta Besar Kebijakan Baik (Goodwill) UNESCO dan ISESCO, dan Deputi Milli Majlis. Adapun Komunitas internasional yang progresif, tokoh-tokoh terkemuka dan khalayak umum dapat dengan mudah menyelenggarakan acara-acara, diskusi, dan hal terpenting, pekerjaan yang dilakukan untuk membangun dialog antar budaya.

Sejumlah pencapaian dan kebijakan multikulturalisme Azerbaijan di era modern ini merupakan suatu contoh bagi negara-negara lain, yang dikenal dengan baik atas pengalaman kaya sejarah mereka dalam hal ini, termasuk di negara-negara Barat, termasuk Britania Raya, Perancis dan Jerman, yang saat ini telah menolak kebijakan multikulturalisme, padahal telah diterapkan selama bertahun-tahun.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich pada 5 Februari 2011, Perdana Menteri Inggris Raya, David Cameron, menjelaskan bahwa alasan utama penolakan adalah keengganan terhadap orang-orang asing yang bertempat tinggal di Inggris Raya untuk berintegrasi dalam komunitas (masyarakat). Ini sangat mungkin menjadi dalih politik.

Mungkin, itu adalah suatu usaha yang dilakukan para politisi multikulturalisme yang bangkrut untuk membenarkan diri sendiri. Pengalaman Azerbaijan dengan kemunculan dan perkembangan multikulturalisme dalam melawan latar belakang ini adalah sebuah contoh keberanian politik yang siap untuk memandu pihak-pihak yang mencintai keadilan di setiap penjuru dunia untuk mengakui reputasi negara kami sebagai suatu negara yang tidak tergoyahkan.

Seseorang dapat menyatakan dengan tegas bahwa Multikulturalisme Azerbaijan telah menjadi ciri utama dri gambaran politik negara kami. Dan ini adalah apa yang diharapkan oleh pendiri politik multikulturalisme Azerbaijan.

Penulis: Kamal Abdullayev

Penasihat Negara untuk Multikultularisme, Antar Etnik, dan Hubungan Antar Agama di Republik Azerbaijan

Anggota Tetap Akademi ilmu Pengetahuan Nasional Azerbaijan

Editor : Muhammad Ibrahim Hamdani