DMI.OR.ID, JAKARTA – Kesenjangan ekonomi dan ketimpangan akses terhadap sumber daya ekonomi antara kelompok masyarakat yang kaya dan yang miskin di Republik Indonesia (RI) masih sangat tinggi. Meskipun indeks koefisien gini (gini ratio) terus menurun dalam tiga tahun pemerintahan Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi), namun angkanya masih cukup tinggi.

Kondisi ini menjadi perhatian utama Presiden Jokowi saat memberikan kata sambutan dalam acara Kongres Ekonomi Umat Tahun 2017 pada Sabtu (22/4) siang di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Kegiatan ini mengangkat tema Arus Baru Ekonomi Indonesia dan diselenggarakan oleh Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat (KPEU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Sabtu (22/4) hingga Senin (24/4).

Presiden Jokowi juga memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam bentuk audio-visual, yang mencatat adanya penurunan indeks koefisien gini dari angka 0,897 ada Maret 2016 menjadi 0,394 pada September 2016. Pemerintah pun berkomitmen untuk terus menjaga dan meningkatkan penurunan rasio gini di Indonesia guna memperkecil tingkat kesenjangan ekonomi.

“Angka rasio Gini memang turun, kini 0,397. Kita ingin turun lebih banyak. Kongres ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk mengatasi ketimpangan,” tutur Presiden Jokowi pada Sabtu (22/4) siang.

Presiden Jokowi pun menyatakan rasa syukurnya bahwa pertumbuhan ekonomi RI mencapai yang tertinggi ketiga di dunia setelah Republik Rakyat China (RRC) dan Republik India, yakni sebesar 5,02 persen pada tahun 2016 lalu.

“Tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 5,02 persen. Ini patut kita syukuri. Kalau kita bandingkan dengan negara lain, kita di peringkat ketiga setelah India dan Tiongkok. Tetapi yang perlu dilihat lebih detil, pertumbuhan ekonomi 5,02 persen itu yang menikmati siapa?,” ungkap Presiden Jokowi di depan para hadirin.

Dalam pembukaan ini, Presiden Joko Widodo hadir didampingi sejumlah menteri Kabinet Kerja, yakni Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Ir. H. Rudiantara, M.B.A., dan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI, Dr. H. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD.

Saat ini, kedua menteri itu juga mengemban amanat sebagai Ketua Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia, dan Ketua Departemen Kominfo, Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Pimpinan Pusat PP DMI.

Adapun Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian RI, H. Darmin Nasution, S.E., D.E.A., Ph.D., ikut berdiri di panggung utama bersama-sama dengan Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat, DR. KH. Makruf Amin. Mereka bersama-sama menyaksikan pemukulan bedug oleh Presiden Joko Widodo sebagai tanda dimulainya acara KEU Tahun 2017.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, acara dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kemudian diikuti lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembukaan oleh Ketua Pelaksana Kongres Ekonomi Umat (KEU), Ir. H. Lukmanul Hakim, M.Si., yang juga Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI.

Acara berlanjut dengan sambutan resmi oleh Ketua komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat (PEU) MUI, H. Muhammad Azrul Tanjung, S.E., M.Si., lalu oleh Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Makruf Amin, dan diakhiri dengan do’a penutup.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani