DMI.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, menjadi salah satu narasumber dalam Rapat Kerja (Raker) PP Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) DMI pada Ahad (12/5) siang di Kantor PP DMI, Jakarta.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, kegiatan ini mengangkat tema Tata Administrasi, Penguatan Organisasi dan Perumusan Program Kerja PP PRIMA DMI serta berlangsung sejak Sabtu (11/5) hingga Ahad (12/5) malam.

Sejumlah narasumber juga turut hadir dalam acara ini, yakni Sekretaris Jenderal PP DMI, Drs. H. Imam Addaruquthni, M.A., dan Ketua Umum Perempuan Peduli Pembangunan Daerah Indonesia (P3DI), Dr. Sri Sundari, S.H., M.M., serta rekan-rekan dari International Peace Youth Group (IPYG).

Dalam paparannya, H. Natsir Zubaidi menekankan pentingnya kegiatan literasi berbasis masjid bagi ummat Islam, termasuk remaja masjid. “Budaya literasi terkait erat dengan hadirnya perpustakaan dan pusat riset sebagai pusat keunggulan umat Islam,” paparnya.

“Membaca adalah to read, lalu ditingkatkan menjadi to learn (belajar), kemudian to understand (belajar). Lalu kita harus mengamalkan (to do) setiap peristiwa secara kritis. Remaja masjid harus kritis. Sedangkan budaya kita masih lebih banyak mendengar,” tuturnya.

Menurutnya, pusat-pusat keunggulan umat Islam itu perlu ada di pesantren dan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan DMI.

Sebagai contoh, lanjutnya, dalam desain arsitektur masjid untuk kantor DMI yang sedang dibangun, perlu ada satu lantai khusus untuk perpustakaan dan pusat riset DMI.

“Perpustakaan itu harus memiliki buku teks yang otentik sebagai karya literasi. Hal ini mutlak diperlukan. Faktanya, buku digital (e-book) masih bisa dibajak (hijacked). Dengan adanya buku teks, otentisitas (keaslian tulisan) teks dalam buku dapat dipertahankan,” ungkapnya.

Gerakan literasi masjid, jelasnya, dapat mencakup sejumlah program seperti penerbitan buku, pelatihan penulisan ilmiah, pelatihan jurnalistik, dan pelatihan manajemen perpustakaan untuk remaja masjid. “Hal ini sangat penting,” tegas H. Natsir.

“Para da’i dan khatib masjid pun harus banyak baca buku agar tidak terjadi salah ucap (slip of tongue). Jangan sampai ada kebohongan intelektual yang kita lakukan. Sebaliknya, harus ada keberanian intelektual. Jadi literasi itu harus kaffah (menyeluruh),” jelasnya.

Gerakan literasi berbasis masjid, ucapnya, juga harus berdasarkan kepada kitab suci Al-Qur’an sebagai kalamullah, firman Allah Subhanahu Wata’ala (SWT), yang menjadi kebenaran hakiki bagi umat Islam.

“Jadi mohon hati-hati, kita ini hanya sekedar berupaya mencari kebenaran. Kita masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Perlu diingat, u’lama itu bukan Nabi,” ujarnya.

Gagasan untuk membangun Gerakan Literasi Berbasis Masjid ini pun mendapat apresiasi positif dan dukungan dari Ketua Umum PP PRIMA DMI, Ahmad Arafat Aminullah, S.T. PRIMA DMI siap bersinergi dan menjadi mitra strategis DMI dalam mewujudkan hal itu.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani