1. Berbahagialah

Berbahagialah menjadi pengurus masjid. Kenapa?. Karena Allah swt telah memberikan ladang untuk beramal shaleh. Amal untuk mengajak kaum muslimin memakmurkan masjid, amal untuk melayani jamaah masjid dengan sebaik mungkin, amal untuk menguatkan persatuan dan meningkatkan kualitas umat Islam, minimal amal untuk memperbaiki kualitas diri kita sebagai muslim.

Menjadi pengurus masjid membuat kita malu kepada diri sendiri dan kepada Allah swt bila kita tidak ke masjid. Menjadi pengurus masjid membuat “rem” kita lebih pakem dari penyimpangan, ada beban moral yang kuat dalam jiwa kita. Bahkan bisa jadi, anggota keluarga ikut malu untuk menyimpang. “Bagaimana mungkin saya menjadi tidak baik, padahal suami saya pengurus masjid,” begitu kata hati isteri. “Bagaimana mungkin saya tidak menjadi anak shaleh, padahal bapak saya pengurus masjid,” begitu kata hati anak.

Berbahagialah menjadi pengurus masjid, karena masjid adalah alat untuk berjuang. Berjuang meningkatkan pemahaman dan komitmen umat terhadap Islam, berjuang menjalin kerjasama keumatan, meningkatkan kesejahteraan. Tegasnya, berjuang seperti Nabi saw berjuang. Bila setiap jamaah memperoleh keutamaan memakmurkan masjid, apalagi pengurusnya. Kalau ada orang yang berambisi untuk menjadi pengurus masjid, mestinya karena ambisi untuk berjuang, bukan status untuk mendapat penghormatan, apalagi sekadar mau ngatur agar orang tunduk kepadanya

2. Sepenuh Jiwa

Mengurus masjid seharusnya dilakukan dengan sepenuh jiwa, tidak harus sepenuh waktu. Bila sudah sepenuh jiwa, maka waktunya ada. Bila tidak sepenuh jiwa, ada waktupun suka berkata tidak ada waktu, sibuk. Sepenuh jiwa membuat masjid diurus dengan penuh penghayatan. Manajemen modern bisa saja diterapkan dalam mengurus masjid, tapi tetap saja pendekatannya dengan pendekatan organisasi sosial. Sepenuh jiwa membuat seorang pengurus selalu berusaha untuk peningkatan pemakmuran masjid dalam makna yang luas. Ia tidak pasrah dengan keadaan masjid yang kurang makmur, tapi berusaha mengembangkan kreatifitas dan terobosan-terobosan baru.

Agar bisa sepenuh jiwa, kuncinya adalah ikhlas, karena Allah swt saja dalam mengurus masjid. Keikhlasan membuat sesuatu yang berat akan terasa menjadi ringan. Tanpa keikhlasan, yang ringanpun akan terasa menjadi berat. Konflik di kepengurusan masjid banyak terjadi, salah satunya karena tidak ada keikhlasan.

Penulis:

Ustaz Drs. H. Ahmad Yani

Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI)