DMINEWS, JAKARTA – Kecaman keras atas vonis hukuman mati terhadap presiden terguling Mesir, Mohamed Morsi, datang dari berbagai belahan dunia dan kalangan. Salah satunya tokoh sekaligus ulama terkenal dunia, Syaikh Dr. Yusuf al-Qaradawi

ulama terkemuka asal Mesir yang kini menetap di Qatar itu, mengatakan hukuman mati melanggar ajaran Islam. Qaradawi termasuk salah satu orang yang dijatuhi hukuman mati bersama dengan presiden terguling Muhammad Mursi.

The Star Online melaporkan pada Senin (18/5), ulama kelahiran Mesir tersebut mengatakan hukuman mati tak sejalan dengan hukum Islam. Ia menyatakan menjauhkan diri dari putusan ini.

“Mereka tak memiliki nilai dan tak dapat dilaksanakan karena melawan aturan Tuhan dan merupakan hukum serta ciptaan manusia,” kata Qaradawi yang dikenal memiliki pemikiran moderat dan banyak pengikut di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Qaradawi termasuk dari 100 terdakwa yang dijatuhi hukuman mati pada Sabtu (16/5) lalu. Ia dianggap terlibat dalam pembobolan penjara massal pada 2011. Secara khusus Qaradawi dituduh menghasut untuk melakukan pembunuhan dan membantu tahanan melarikan diri. Surat perintah Mesir untuk penangkapannya diedarkan oleh Interpol pada Desember.

Qaradawi membantah tuduhan, ia mengatakan berada di Qatar saat dugaan pelanggaran terjadi. Qaradawi menjalani hukuman in absentia pada Sabtu, tetapi dapat mengajukan banding atas hukuman mati.

Sementara itu pengamat Timur Tengah dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Hery Sucipto mengatakan, vonis mati Morsi bukanlah solusi. Vonis tersebut, kata dia, hanya akan menambah pelik permasalahan yang dihadapi Mesir di masa mendatang.

“Kondisi dan situasi tidak akan lebih baik pasca vonis mati. Pemerintah Mesir akan menghadapi situasi dimana keamanan dan instabilitas akan berlangsung terus dan semakin meruncing,” ungkap dia, Selasa (19/5).

Sebagai kader dan mantan pemimpin dari ormas terbesar di Mesir, Ikhwanul Muslimin, lanjut dia, Morsi memiliki pengaruh dan pengikut sangat banyak. Untuk itu, ia mengkhawatirkan akan muncul kerusuhan dan chaos baru di negeri itu, bahkan dapat berakibat pada stabilitas keamanan Timur Tengah secara umum.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani