DMI.OR.ID, BANDUNG – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, telah menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa pada Senin (13/1) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Tepatnya dalam Sidang Terbuka Penganugerahan Doktor Honoris Causa (H.C.) di Aula Barat Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat.

Seperti dilansir dari laman https://www.itb.ac.id/, Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) ke 10 dan ke 12 itu mendapat gelar Doktor (H.C.) atas inovasi yang dilakukan untuk melakukan peningkatan produktivitas suatu sistem. Sistem itu dapat berbentuk perusahaan, institusi di sektor publik, maupun institusi di sektor pemerintahan.

H. Muhammad Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu juga menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Mendorong Produktivitas, Meningkatkan Kesejahteraan Bangsa”.

“Pada kesempatan ini, saya ingin berpesan kepada sivitas akademika ITB agar jangan pernah berhenti melakukan dan menebar inovasi. Anda semua adalah generasi terbaik bangsa. Anda adalah lokomotif kemajuan dimana bangsa ini berharap peran besar ITB sebagai inisiator dan motor peningkatan produktivitas,” papar Jusuf Kalla dalam orasi ilmiahnya pada Senin (13/1).

Dalam orasi ilmiahnya, H. Muhammad Jusuf Kalla juga menceritakan lebih dari 50 tahun perjalanan hidupnya sebagai pengusaha hingga negarawan. Antara lain perjalanan karirnya bersama lima insinyur muda dari ITB di awal tahun 1980-an. Kelima insinyur itu tergabung dalam PT. Bukaka Teknik Utama.

Seperti dikutip dari laman https://tekno.tempo.co/, Jusuf Kalla menceritakan pengalamannya pada tahun 1990-an. Saat itu, PT. Bukaka Teknik Utama yang ia pimpin berhasil membuat garbarata, yakni jembatan akses penumpang dari terminal bandar udara (bandara) ke pesawat terbang.

“Sebelum pembuatan garbarata, perusahaan telah mengirimkan para insinyur terbaiknya untuk mempelajari garbarata ke berbagai bandara terbaik di dunia. Selain mengamati dan memotret, tim juga berdiskusi informal dengan para teknisi dan operator, sekaligus mendata komponen, merk, dan taksiran harga garbarata,” paparnya.

Tanpa disadari, lanjutnya, sebenarnya saat itu Bukaka sedang melakukan apa yang para pakar sebut sebagai reverse engineering. PT. Bukaka Teknik Utama juga ikut tender dengan modal desain sendiri.

Pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 itu pun berhasil meyakinkan sejumlah menteri, termasuk Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Republik Indonesia (RI) saat itu, era 1990-an, yakni Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng.

“Saya sampaikan bahwa beliau bisa membangun pesawat terbang, masa jembatannya saja kami tidak mampu bangun,” paparnya.

Namun setelah masuk dalam daftar dengan harga penawaran terendah, lanjutnya, Bukaka justru kalah oleh perusahaan lain yang dekat dengan pusat kekuasaan, yakni keluarga Presiden Jenderal Besar TNI H. Muhammad Soeharto.

“Perusahaan itu hanya berperan sebagai agen dari produsen garbarata luar negeri. Nuansa KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) memang sangat kental saat itu,” ungkapnya.

Dikutip dari laman https://www.itb.ac.id/, Ketua Tim Promotor dalam Pemberian Gelar Kehormatan ini ialah Prof. Dr. Ir. Abdul Hakim Halim, M.Sc., dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB.

Lima anggota tim lainnya dari FTI ITB ialah Prof. Dr. Ir. Dradjad Irianto, M.Eng., Prof. Dr. Ir. Kadarsyah Suryadi, D.E.A., dan Prof. Ir. Bermawi P. Iskandar, M.Sc., Ph.D., serta Prof. Ir. Hermawan Kresno Dipojono, M.S.E.E., Ph.D.

Sedangkan satu anggota tim promotor lainnya yakni Prof. Dr. Mohamad Ikhsan, S.E., M.A., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI).

“Berdasarkan karya-karya inovatif, rekam jejak, dan kearifan serta ketentuan penerima gelar Doktor Kehormatan yang tercantum dalam SK Senat Akademik ITB nomor 43/SK/K01-SA/2003, Tim Promotor berkesimpulan, dengan penuh keyakinan, bahwa M. Jusuf Kalla sangat layak untuk mendapat gelar Doktor Kehormatan dari ITB dalam bidang Produktivitas,” tutur Prof. Abdul Hakim.

Prof. Abdul Hakim menyatakan hal itu pada Senin (13/1), saat membacakan Laporan Pertanggungjawaban Tim Promotor ITB. Adapun Gelar kehormatan Doktor H.C. ini merupakan yang ke-14 kalinya diterima oleh Muhammad Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu juga menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Mendorong Produktivitas, Meningkatkan Kesejahteraan Bangsa”.

“Pada kesempatan ini, saya ingin berpesan kepada sivitas akademika ITB agar jangan pernah berhenti melakukan dan menebar inovasi. Anda semua adalah generasi terbaik bangsa. Anda adalah lokomotif kemajuan dimana bangsa ini berharap peran besar ITB sebagai inisiator dan motor peningkatan produktivitas,” papar Jusuf Kalla dalam orasi ilmiahnya.

Dalam sambutannya Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, D.E.A., menyatakan bahwa ITB telah berkesempatan untuk memberikan gelar Doktor H.C. kepada putera terbaik bangsa yang telah mendedikasikan kehidupannya bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

“Bagi ITB, penganugerahan gelar doktor kehormatan ini memiliki arti tersendiri yang sangat besar,” ungkap Prof. Kadarsyah pada Senin (13/1).

Indonesia, lanjutnya, akan mendapatkan bonus demografi pada kurun waktu 2030-2040. Artinya, Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif, usia 15-64 tahun, yang lebih besar daripada penduduk usia tidak produktif, yakni usia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun.

Menurutnya, sivitas akademika ITB perlu mempersiapkan segalanya agar usia produktif dari sebagian besar bangsa ini bukan hanya sekedar potensi saja. “Hal terpenting ialah bagaimana agar kita benar-benar menjadi bangsa yang memiliki produktivitas tinggi,” ucapnya.

“Saya berharap agar penganugerahan gelar Doktor Kehormatan kepada Dr. (H.C.) Muhammad Jusuf Kalla ini menjadi awal dari gerakan nasional produktivitas dalam rangka menyongsong bonus demografi,” harapnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani