Nabi Ibrahim Alaihis Salam (AS) dan keluarganya begitu tunduk pada perintah dan keputusan Allah Subhanahu Wata’ala (SWT). Salah satu faktor utamanya adalah tidak mau kompromi dengan syaitan. Musuh yang nyata harus selalu diwaspadai, godaannya yang memikat tidak usah dihiraukan, bahkan syaitan itu ditimpuk dalam prosesi haji menjadi ibadah melontar. 

Ssudah puasa arafah, Idul Adha, apalagi setelah menunaikan ibadah haji, semestinya kita menjadi orang yang kuat dihadapan syaitan sehingga syaitan minder berhadapan dengan kita, bukan malah kita menjadi lemah dan tidak berdaya dihadapannya.

Karena itu, berlindung kepada Allah SWT dari gangguan syaitan menjadi amat penting, meskipun mau melakukan kebaikan seperti membaca al Quran dengan membaca taawudz, apalagi untuk melakukan aktivitas lain.

 

Penulis: Udtadz Drs. H. Ahmad Yani

Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat (PP), Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Penulis buku: Selalu Kuat Dihadapan Musuh Abadi