DMI.OR.ID, ABU DHABI – Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Komisaris Jenderal (Komjen). Polisi (Pol). Purnawirawan (Purn). H. Syafruddin, M.Si., telah berkunjung ke Masjid Raya (Grand Mosque) Abu Dhabi pada Senin (11/2). Masjid ini terletak di Kota Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab (UEA).

Seperti dikutip dari laman www.republika.co.id, Waketum PP DMI yang juga Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi (RB) itu berkunjung disela-sela acara Government World Summit  pada 9-12 Februari di Dubai, UEA.

Dalam kunjungan ini, Komjen. Pol. Purn. Syafruddin dipandu secara khusus dan mendapat sambutan sebagai tamu Very-Very Important Person (VVIP) di Masjid Raya Abu Dhabi. Pemandu itu juga menjelaskan secara detail tentang latar belakang pembangunan dan arsitektur Masjid Raya Abu Dhabi. Termasuk bahan-bahan pilihan untuk struktur masjid yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.

Masjid Raya Abu Dhabi ini juga dikunjungi oleh ribuan wisatawan mancanegara setiap hari. Mereka datang dari berbagai belahan dunia seperti Eropa Timur, China, dan Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia. Ada pula wisatawan non-Muslim yang berkunjung karena tertarik dengan kemegahan arsitektur masjid. Masjid itu pun menjadi kebanggaan masyarakat UEA.

Menurut H. Syafruddin, Masjid Agung Abu Dhabi mampu memperlihatkan nuansa toleransi kepada para pengunjung. “Hal ini sesuai dengan jargon UEA yang mengedepankan toleransi,” tuturnya pada Senin (11/2).

Nuansa toleransi Masjid Agung Abu Dhabi, lanjutnya, terlihat dari pengnjung non-Muslim yang datang sekedar untuk melihat kemegahan dan keindahan masjid dari dekat. “Sedangkan Muslim datang untuk melakukan ziarah sekaligus beribadah di masjid,” paparnya.

“Para warga dunia ituvmembaur satu sama lain tanpa mempersoalkan agama, ras, dan etnik,” ungkapnya.

Menurutnya, beberapa masjid di Indonesia juga bisa dikelola seperti Masjid Agung Abu Dhabi. Misalnya Masjid Istiqlal di Jakarta, Masjid Baiturrahman di Aceh, Masjid Agung Bandung, Masjid Al-Markaz al-Islami di Makassar, serta masjid-masjid bersejarah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

H. Syafruddin pun menegaskan bahwa manajemen dan pengelolaan masjid, termasuk keaslian dan kebersihan masjid, harus dijaga oleh semua pihak, khususnya pengurus masjid. “Dalam hal ini, harus dibuat prosedur operasional standar (SOP) bagi pengunjung. Tujuannya agar mereka tetap berpakaian sopan dan Islami,” jelasnya.

Misalnya, imbuh Syafruddin, pengelola Masjid Raya Abu Dhabi yang mewajibkan pengunjung wanita, baik Muslim maupun non Muslim, untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat. “Pihak masjid pun menyediakan pakaian bagi mereka yang tidak menggunakannya (pakaian penutup aurat),” ujarnya.

Hal ini, ucapnya, bertujuan agar kesucian dan kehormatan masjid tetap terjamin. DMI akan memperhatikan hal ini secara baik. “DMI mengarahkan perhatian ke sana untuk memakmurkan dan dimakmurkan masjid,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani