DMI.OR.ID, JAKARTA – Ummat Islam di Indonesia sangat terpuruk dalam bidang perekonomian. Lihat saja daftar 10 orang terkaya di Indonesia, ternyata hanya ada satu orang yang Muslim. Bangsa Indonesia hanya menjadi konsumen saja tanpa pernah berpikir menjadi produsen.

Wakil Presiden (Wapres) RI, DR. H. Muhammad Jusuf Kalla, menyatakan bahwa dari daftar 10 orang terkaya di Indonesia, hanya ada satu orang yang Muslim atau pernah ke masjid sehingga ummat Islam di Indonesia sulit membanggakan diri di bidang ekonomi.

“Kita sulit membanggakan diri di bidang ekonomi. Lihat saja daftar 10 orang terkaya di Indonesia, hanya satu orang yang Muslim atau beribadah di masjid. Jangan menikah saja yang dianggap sunnah Rasul, an-nikaahu sunnati, tetapi berdagang (ekonomi) juga sunnah rasul,” tutur Wapres Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada Senin (5/12) siang.

Wapres menyatakan hal itu saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II DMI di Istana Wapres, Jakarta. Acara ini akan berlangsung dari Senin (5/12) hingga Rabu (7/12) di Jakarta dengan tema  Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid, Berdayakan Masjid untuk Ummat dan Bangsa.

Ummat perlu tahu, lanjutnya, kalau Rasulullah Muhammad SAW terlebih dahulu berdagang sebelum menikah dengan Siti Khadijah RA. Bahkan beliau menjadi pedagang yang sukses. Namun banyak ummat Islam yang belum memahami hal ini.

Menurutnya, masjid memiliki potensi pemberdayaan ekonomi ummat yang sangat besar. Ketika Shalat Jumat, sedikitnya seratus juta orang berkumpul bersama di masjid-masjid di seluruh Indonesia.

“Ini baru laki-laki saja yang sholat Jumat di masjid. Kalau mereka semua saling kontak (mengenal), maka mudah sekali membangun hubungan kemasyarakatan, termasuk di bidang ekonomi,” paparnya.

Contoh lainnya, ungkap Wapres Kalla, ialah ketika Idul Adha tiba, maka ummat Islam yang mampu beramai-ramai menyumbangkan hewan qurban ke masjid-masjid. Namun hanya sedikit ummat Islam yang menjadi peternak untuk menyediakan hewan qurban. “Akibatnya, orang lain (impor) yang banyak beternak hewan qurban, kita yang bayar,” ungkapnya.

Melalui Rakernas ini, Wapres Jusuf Kalla juga mengajak para pengurus DMI untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT serta mengevaluasi program-program yang telah dilaksanakan, dan membuat rencana-rencana baru untuk program-program DMI di masa depan. “Sekaligus mempersiapkan muktamar yang akan berlangsung sebentar lagi,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Organizing Committee (SC) dan Steering Committee (SC) Rakernas II DMI, yakni Dr. H. Munawar Fuad Noeh, M.A., yang juga Sekretaris PP DMI, dan Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, yang juga Ketua PP DMI Bidang Sarana Hukum dan Waqaf.

Hadir pula Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dr. H. Sofyan Abdul Djalil, S.H., M.A., M.A.L.D., dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkminfo) RI, Drs. H. Rudiantara, M.B.A. Keduanya juga menjadi Ketua PP DMI dan Ketua Departemen Kominfo, Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri (HAL-LN).

Tuuru hadir Direktur Utama (Dirut) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Prof. Dr. dr. H. Fahmi Idris, M.Kes., yang juga Ketua PP DMI Bidang Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kepemudaan, serta Staf Khusus Wapres RI, H. Syahrul Ujud, S.H., yang juga Sekretaris PP DMI.

Acara pembukaan ini diakhiri dengan do’a yang dipimpin oleh Ketua PP DMI Bidang Dakwah dan Pengkajian, KH. Ahmad Bagdja, dan foto bersama Wapres Jusuf Kalla dengan para peserta dari Pimpinan Wilayah (PW) DMI dari 34 provinsi se-Indonesia.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani