DMI.OR.ID, JAKARTA – Perhelatan internasional bertajuk World Islamic Economic Forum (WIEF) ke 12 di Jakarta Covention Centre (JCC), Kompleks Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, telah menyepakati lima persoalan besar yang sedang dan akan dihadapi dalam memajukan Ekonomi Islam di seluruh dunia.

Berdasarakan rilis yang diterima DMI.OR.ID, para pimpinan delegasi WIEF yang mewakili 4.080 peserta dari 73 negara sepakat untuk melanjutkan promosi ekonomi Islam dengan menekankan pada kreativitas dan inovasi melalui berbagai format seperti Diskusi Panel, Masterclass (Kelas Khusus), Pertukaran Bisnis, Ideapad (Pertukaran Gagasan), Sesi Penawaran, dan LinkedUp.

Format lainnya ialah Program Sponsor, Program Investasi Negara, Pameran Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Pasar untuk Tempat Kesenian Kreatif, dan Sarapan Pagi untuk Jaringan Bisnis.

Adapun kelima persoalan besar yang dihadapi ialah: Pertama, ketidaksetaraan yang terus tumbuh sehingga berlawanan dengan solusi untuk kemajuan yang inklusif. Kedua, kecenderungan pembangunan terpusat untuk mengabaikan atau bahkan memarjinalkan (mengecilkan) sebagian besar masyarakat di banyak negara.

Ketiga, konsekuensi yang tidak disengaja akibat inovasi teknologi yang seringkali hanya memperkaya segelintir orang. Keempat, potensi penduduk usia muda untuk kemajuan dunia yang belum bisa dimanfaatkan secara efektif. Kelima, pentingnya meningkatkan strategi media untuk meningkatkan persepsi global terhadap investasi dunia Islam dan potensi bisnis.

Acara ini diikuti oleh 4.080 peserta dari 73 negara, termasuk dua mantan pemimpin, yakni Presiden RI kelima, DR. Hj. Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri, dan manta Perdana Menteri Malaysia, Tun Dato’ Sri Haji Abdullah bin Haji Ahmad. Hadir pula 12 Menteri, 10 Wakil Menteri, dan tokoh-tokoh pengusaha ternama.

Sejumlah topik yang dibahas pun sangat relevan dengan ekspansi ekosistem halal global, yakni meningkatkan keuangan Islami yang inklusif, bertambahnya lingkungan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dukungan untuk pengusaha pemula, dan pembangunan industri kreatif.

Dalam pembukaan acara ini, Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, tampak memukul gong beberapa kali dengan disaksikan langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) RI, His Excelency (H.E.) Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D., dan Ketua WIEF Foundation, H.E. Tun Datok Musa bin Hitam

Turut hadir sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan serta perwakilan resmi negara-negara sahabat, seperti Perdana Menteri (PM) Malaysia, H.E. Dato’ Sri Mohammad Najib Tun Abdul Razak, dan Presiden Republik Tajikistan, H.E. Emomali Rahmon.

Presiden Widodo dan kedua kepala negara/ pemerintahan itu juga memberikan pidato pembukaan bersama-sama dengan Menkeu RI, Ketua WIEF Foundation, dan Deputi Perdana Menteri Kerajaan Hasyimiah Yordania untuk Urusan Ekonomi, H.E. Dr. Jawad Al Anani, yang juga Menteri Industri, Perdagangan dan Penawaran.

Pembicara utama lainnya ialah Presiden Republik Guinea, H.E. Prof. Alpha Conde, Perdana Menteri Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka, H.E. Ranil Shriyan Wickremesinghe, dan Presiden Islamic Development Bank (IDB), H.E. Dr. Ahmad Mohamed Ali Al-Madani, serta Menteri Industri, Perdagangan dan Investasi Republik Federasi Nigeria, H.E. Dr. Aisha Abubakar Abdulwahab.

Beberapa perwakilan negara sahabat juga memberikan pidato pembukaan, seperti Menteri Ekonomi dan Perdagangan Keemiran Qatar, H.E. Dr. Sheikh Ahmed Bin Jassim Al Thani, dan Sekretaris Negara bidang Tenaga Kerja dan Pelatihan Vokasional Kerajaan Kamboja, H.E. Okhnha Datuk Othman Hassan.

Perwakilan negara sahabat lainnya ialah Menteri Hubungan dan Kerjasama Internasional Afrika Selatan, H.E. Maite Nkoana-Mashabane, Menteri Perindustrian dan Pertambangan Republik Demokratik Rakyat Aljazair, H.E. Abdesselem Bouchouareb, serta Menteri Perencanaan Republik Rakyat Bangladesh, H.E. A H M Mustafa Kamal.

Hadir pula Menteri Perdagangan Republik Islam Pakistan, H.E. Ir. Khurram Dastgir Khan, serta sejumlah pengusaha muda, pebisnis perempuan, pemimpin pemikir, akademisi, dan perwakilan dari pelaku seni kreatif dan media.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani