DMI.OR.ID, JAKARTA – Pengelolaan masjid sudah sepatutnya dilaksanakan secara profesional layaknya mengelola perusahaan. Termasuk pengelolaan berbagai program berbasis masjid dan pengelolaan sumber daya masjid seperti pengurus, jama’ah dan masyarakat di sekitar masjid.

Direktur Eksekutif Baitulmaal Muamalat (BMM), H. Iwan Agustiawan Fuad, menyatakan hal itu pada Sabtu (29/8) pagi di Hotel Sofyan, Jakarta, dalam kegiatan Workshop Gerakan Cinta Masjid (GCM) bertema Memaksimalkan Fungsi Masjid Sebagai Pusat Peradaban.

Workshop ini diselenggarakan oleh Baitul Maal Muamalat (BMM), Bank Muamalat Indonesia (BMI), dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) 

“Kita harus berusaha sungguh-sungguh dalam mengelola masjid secara profesional, sama seperti mengelola perusahaan. Filosofinya, bagaimana masjid itu ada di dalam hati kita, di dalam diri kita,” tutur Iwan pada Sabtu (29/8).

Menurutnya, setiap Muslim yang hidup di dunia itu seperti menyeberang jalan, bagaimana bisa bekerja untuk mencari kesejahteraan dunia namun bermanfaat untuk akhirat. “Bagaimana agar sibuknya kita di dunia itu yang terlihat di akhirat,” ujarnya.

Melalui program GCM ini, lanjutnya, Iwan berharap berbagai macam program berbasis masjid yang bermanfaat bagi masyarakat dapat terlaksana, sehingga diperlukan diskusi lebih lanjut dengan berbagai pihak.

“Salah satu program GCM yang sudah terlaksana ialah Pelatihan Manager Masjid dengan basis kompetensi, standarisasi dan pemberian materi bagi peserta serta desain pengembangan karir yang jelas,” papar Iwan.

BMM, lanjutnya, memiliki motto CINTA dalam melaksanakan GCM ini. CINTA adalah kependekan dari charity, integrated program, networking, teknologi, dan accountability. Program charity oleh BMM ini didanai oleh BMI dan dilaksanakan di cabang-cabang Bank Muamalat di seluruh Indonesia.

Adapun integrated program berarti program kerja GCM terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Program-program GCM sepatutnya mampu memenuhi kebutuhan pengurus dan jama’ah masjid serta masyarakat di sekitarnya. Sedangkan networking berarti GCM memanfaatkan berbagai jaringan yang dimiliki BMI, BMM dan DMI.

“Seekor semut dari Jakarta bisa sampai di Paris, Perancis, jika menempel di kabin pesawat terbang. Artinya, tujuan akan cepat tercapai jika kita menempel pada sesuatu yang besar. Untuk menempel tentu harus menggunakan alat,” jelasnya.

Dalam program GCM, lanjutnya, BMM telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT. Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) untuk mendukung jaringan distribusi Halal Mart berbasis masjid.

Kemudian, teknologi berarti GCM harus memanfatkan perusahaan yang sudah memenuhi standar internasional dalam mengumpulkan donasi masyarakat dengan perangkat teknologi terkini. BMM sedang berupaya menjalin kerja sama dengan perusahaan crowd funding untuk mengumpulkan donasi masyarakat.

Terakhir, jelasnya, BMM menjunjung tinggi accountability, yakni setiap proses dalam transaksi finansial dan program kerja GCM harus selalu terbuka, transparan dan akuntabel, agar masyarakat benar-benar yakin dengan pengelolaan donasi dalam GCM ini. “Mari kitta buktikan untuk benar-benar cinta masjid dengan moto CINTA,” ungkapnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani