Berbicara Masjid Salman ITB tidak dapat dilepaskan dari sang perancang, Achmad Noe’man. Lulusan Arsitektur ITB tahun 1958 ini merupakan salah satu orang yang menggagas berdirinya masjid kampus pertama di Indonesia.

Masjid Salman ITB sendiri merupakan karya pertamanya di bidang arsitektur masjid. “Masjid Salman ITB memberi kesan dan semangat tersendiri untuk saya berkarya,” ucapnya ketika mendapatkan MUI Award 2011 pada Jumat (15/4/11) malam lalu.

Achmad Noe’man dilahirkan di Garut, 10 Oktober 1925. Ayahnya adalah pendiri Muhammadiyah Garut, Muhammad Jamhari. Sebagai ulama, Jamhari kerap dituntut untuk membangun sarana pendidikan dan masjid.

Dalam hal ini, Jamhari selalu merancang semuanya sendiri, dan Noe’man kecil selalu mendampingi sang ayah. Dari sinilah ketertarikan Noe’man terhadap arsitektur mulai tumbuh.

Pendidikan Sekolah Dasar Noe’man diselesaikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Budi Priyayi Ciledug, Garut. Kemudian, dilanjutkan ke jenjang SMP di Meer Uitgebreid Lager Onderweijs (MULO) di kota yang sama.

Namun karena kemerdekaan Indonesia yang mengakibatkan sekolahnya ditutup, akhirnya Noe’man melanjutkan ke MULO Yogyakarta. Dari kota ini, pendidikannya diteruskan ke SMA Muhammadiyah di kota yang sama.

Tanpa diketahui Noe’man, ketika duduk di bangku SMA, sang ayah sakit dan meninggal. Ayahnya tidak mengizinkan Noe’man diberitahu perihal sakitnya, khawatir sang anak tidak menyelesaikan sekolahnya.

“(Noe’man) jangan diberitahu, biarkan dia menyelesaikan sekolah. No’eman itu, kalau bisa, di mana saja sekolahnya harus selesai. Setelah selesai, jangan menjadi Pegawai Negeri, tapi harus berdiri sendiri,” wasiat terakhir ayahnya seperti dikutip dari www.alhikmahonline.com.

Wasiat ini disampaikan oleh ibunya ketika Noe’man pulang ke Garut usai lulus SMA. Saat itu, Noe’man merasa kecewa dan sedih kehilangan ayah tercintanya. Meskipun begitu, Noe’man tidak mau larut dalam kesedihan dan berusaha bangkit guna menunaikan amanah mendiang ayahnya.

Guna meraih cita-citanya menjadi arsitek, Noe’man melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia (UI) di Bandung pada 1948 silam. Saat itu, cikal bakal kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini belum menyediakan jurusan arsitektur sehingga Noe’man mengambil Fakultas Teknik Sipil ITB.

Adanya penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) setahun kemudian, 1949, mau tidak mau membuat Noe’man harus mengikuti wajib militer yang ditetapkan pemerintah Indonesia kala itu. Ia pun tergabung dalam Corps Polisi Militer (CPM) dan mendapatkan pangkat Letnan Dua.

Ketika Noe’man mendengar telah dibuka jurusan Arsitektur di kampusnya pada 1952, dia langsung mengundurkan diri dan melanjutkan studinya. “Ada nilai-nilai yang cocok untuk beramal saleh, dan dengan pensil dan kertas saya bisa berdakwah,” tuturnya seperti dikutip dari blog Ahmad Rofi Usmani, seorang penulis dan editor yang tinggal di Bandung.

Pada 1958, Noe’man berhasil meraih gelar Insinyur. Awalnya, ia hendak dikirim untuk mengikuti program magister di Kentucky, Amerika Serikat. Namun ia lebih memilih menjadi dosen di ITB dan membuka biro arsitektur yang diberi nama Birano. Birano merupakan singkatan dari Biro Arsitektur Achmad Noe’man.

Menyadari tidak adanya sarana untuk shalat di kampusnya, Noe’man pun mulai memipikan berdirinya sebuah masjid kampus di ITB. Bersama kakaknya yang juga pengajar di ITB, Ahmad Sadali, ia mulai merintis mimpi-mimpinya.

Hingga 1964, bersama Prof. T.M. Soelaiman, sang ketua tim delegasi Jajasan Pembina Masdjid (JPM) ITB, Noe’man berhasil bertemu dengan Ir. Soekarno, presiden Republik Indonesia ketika itu. Noe’man pun memperlihatkan rancangan masjid kampus ITB yang dinilai oleh Soekarno cukup futuristik ketika itu.

Akhirnya, setelah perbincangan yang cukup alot, Soekarno merestui pendirian masjid kampus ITB dan menamainya Masjid Salman ITB. Terkait Nama Salman, Soekarno sendiri mengaku terilhami nama seorang sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al-Farisi RA, perancang parit ketika Perang Khandaq.

Masjid Salman ITB merupakan karya arsitektur pertama Noe’man. Tidak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah, Masjid Salman ITB justru beratap rata. Di dalam ruangan utama masjid pun tidak terdapat satu tiang. Hal ini untuk menghindari terpotongnya shaf shalat berjamaah.

Dalam membangun masjid, Noe’man berpegang pada dua ayat dalam Alquran. Pertama adalah firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 170 yang artinya:

Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

Menurut Noe’man, ayat ini mengharuskan setiap muslim untuk aktif berijtihad menggunakan ilmu dan mendahulukan aturan dari Allah dibandingkan dengan tradisi yang ada. “Kalaupun salah, ijtihad itu tetap dapat pahala satu,” tutur Noe’man dikutip dari Republika.

Sedangkan pegangan kedua adalah surat Al Isra ayat 27 yang artinya:

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya“.

Dalam hal ini, Achmad Noe’man menghindari pemborosan dan bangunan yang terlalu mewah ketika membangun masjid. “Akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan untuk keperluan yang lain,” lanjut penulis buku The Mosque as a Community Development Centre ini.

“Saya justru mencari nilai-nilai yang universal, yang transendental. Jadi, saya hilangkan itu bentuk kubah. Memang, berat juga waktu menghilangkan kubah dari rancangan kita. Itu kan ciri kita,” sambung Noe’man seperti dikutip dari www.arofiusmani.blogspot.com.

Selepas merancang Masjid Salman ITB, Noe’man pun mulai aktif menjadi arsitek berbagai masjid lainnya di Indonesia, bahkan di dunia. Sejak saat itu, karya rancangan arsitektur masjid khas Noe’man tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Bontang, dan Ujung Pandang.

Tercatat Masjid Agung Pati, Masjid Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Masjid Al-Ghifari Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Masjid PT Pupuk Kujang, Masjid Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, dan Masjid Komplek Perumahan Pramuka, Cibubur, Jakarta merupakan beberapa buah karya No’eman.

Karya Noe’man lainnya adalah Masjid At-Tin yang dibangun untuk mengenang almarhumah Tien Soeharto dan Masjid Al-Markaz Al-Islamy di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

Di luar negeri, Noe’man juga tercatat sebagai perancang mimbar Masjidil Aqsha di Palestina pada 1993 hingga 1994. Ia juga menjadi perancang Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.

Karya lainnya adalah Masjid Muhammad Suharto di Sarajevo, Bosnia. Masjid ini merupakan sebuah karya monumental dari bangsa Indonesia yang kala itu cukup mengguncang dunia.

Ketika ditanya berapa banyak masjid yang telah dirancang olehnya, dengan rendah hati Noe’man mengaku tidak pernah menghitungnya. Ia hanya mengingat masjid-masjid besar yang pernah dirancangnya.

Karena prestasinya yang sangat gemilang ini, ketika Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta didirikan, Noe’man pun menjadi salah satu anggota Dewan Kurator-nya. Tak hanya itu, beliau pun pernah menerima penghargaan sebagai penulis Khat Kufi dari Istanbul, Turki.

Selama 51 tahun perjalanan karirnya sebagai arsitektur, Noe’man selalu berusaha untuk menjalani profesinya sebaik-baiknya. Satu yang ia harapkan dari karya-karyanya ialah dapat memberikan manfaat dan kemaslahatan umat, terutama untuk masyarakat miskin.

Noe’man juga berharap di luar sana ada banyak generasi muda yang mau dan mampu bekerja untuk kemaslahatan umat.

“Marilah berjuang di jalan Allah dengan apa yang kita miliki saat ini, sehingga Islam bisa menjadi agama yang Rahmatan lil alamin,” tutup Noe’man dalam sambutannya pada malam penghargaan.

Penulis: Yudha P. Sunandar

Editor: Muhammad Ibrahim Hamdani

Sumber: http://salmanitb.com/