Menjalang Ramadan, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) sekaligus Wakil Presiden RI ke 10 dan ke-12, Jusuf Kalla mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadan sebagia ruang menguatkan yang batin dan membenahi yang nyata. Yaitu mempertebal doa serta solidaritas sosial di tengah situasi ekonomi yang diniali sedang berat, sembari memastikan masjid sebagai pusat ibadah makin nyaman dan khusyuk melalui perbaikan kualitas akustik dan tata suara.
Pernyataan itu disampaikan JK usai menghadiri kegiatan Pelatihan Akustik Masjid di Paragon Community Hub, Jakarta, Minggu (25/1/2026). Dalam pesannya, Ramadan tidak semestinya dipahami sebatas peningkatan ibadah personal, tetapi juga momentum membangun “ketahanan bersama”—masyarakat tetap bekerja keras, saling menyokong, dan saling mendoakan agar roda ekonomi tetap bergerak. Baginya, doa dan ikhtiar sosial-ekonomi berjalan beriringan: ketika tekanan hidup meningkat, kehati-hatian, kerja keras, dan dukungan antarsesama justru perlu dikencangkan.
Namun, ajakan menguatkan solidaritas itu juga diturunkan JK ke hal yang sangat praktis, yaitu kualitas pengalaman beribadah di masjid. Ia menyoroti fakta bahwa sebagian besar aktivitas jamaah di masjid adalah “mendengarkan”—mulai dari khutbah, kajian, hingga pengumuman. Tetapi ironisnya banyak masjid masih memiliki sistem suara yang kurang memadai. JK menyebut sekitar 75% masjid di Indonesia kualitas sound system-nya buruk atau perlu perbaikan operasional, padahal sekitar 80% kegiatan di masjid bertumpu pada audio yang jelas.
Menurut JK, akar masalahnya sering bukan sekadar perangkat mahal atau murah, melainkan cara pemasangan yang tidak tepat. Misalnya pemasangan dilakukan seadanya, volume dibesarkan tanpa kebutuhan, atau pemilihan perangkat tidak disesuaikan dengan ukuran masjid dan karakter lingkungan sekitar.
Ia menekankan masjid perlu menghadirkan suasana syahdu. Pengeras suara tidak boleh “asal keras”, karena tujuan utamanya bukan hiburan, melainkan membantu kekhusyukan. Dengan kata lain, perbaikan sound system bukan proyek teknis belaka, tetapi bagian dari adab ruang ibadah. Menjaga agar pesan keagamaan tersampaikan jernih, menenangkan, dan tidak menimbulkan gangguan.

